INDIA — Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di Journal of Future Foods mengungkapkan kemajuan dalam pemanfaatan nanopartikel berbasis tumbuhan sebagai pengobatan kanker paru-paru yang inovatif. Nanopartikel ini disintesis dari metabolit sekunder tanaman dan dinilai lebih efektif, hemat biaya, serta ramah lingkungan dibandingkan metode sintetis kimiawi yang lebih umum digunakan.
Tim peneliti dari beberapa institusi terkemuka di India, termasuk JSS Academy of Technical Education, Meerut Institute of Engineering and Technology, serta Periyar University, menemukan bahwa nanopartikel yang dihasilkan melalui sintesis hijau ini memiliki potensi besar dalam mendeteksi, mendiagnosis, dan mengobati kanker paru-paru. Mereka menggunakan logam mulia seperti perak (Ag), emas (Au), dan tembaga (Cu) yang distabilkan oleh molekul bioaktif dari ekstrak tumbuhan.
Menurut penelitian ini, salah satu keunggulan utama dari nanopartikel berbasis tumbuhan adalah kemampuannya untuk secara efektif mengurangi dampak toksisitas pada jaringan non-kanker, yang merupakan masalah umum dalam pengobatan konvensional seperti kemoterapi dan radiasi. Selain itu, nanopartikel hijau ini menunjukkan stabilitas yang baik serta sifat-sifat terapeutik yang dapat dikontrol, sehingga diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pengobatan kanker paru-paru di masa depan.
Prof. Atiqul Islam, salah satu peneliti utama, menjelaskan, "Penggunaan nanopartikel hijau yang diproduksi dari tumbuhan dapat menjadi solusi masa depan dalam pengobatan kanker. Metode ini lebih hemat energi, ramah lingkungan, dan memiliki manfaat biokompatibilitas yang signifikan."
Kanker paru-paru, yang merupakan penyebab utama kematian akibat kanker di dunia, masih menjadi tantangan besar bagi para ahli medis. Dengan adanya inovasi ini, harapannya adalah dapat memperbaiki angka kelangsungan hidup pasien serta mengurangi efek samping pengobatan tradisional.
Penelitian ini membuka peluang baru dalam pengembangan terapi kanker yang lebih efisien dan berkelanjutan. Studi lanjutan dan uji klinis diharapkan akan dilakukan untuk lebih mendalami potensi nanopartikel hijau ini dalam dunia medis.

0 Komentar