Mengakar Kuat di Tanah Garut: Prodi Pendidikan Fisika UNIGA Memperkuat Kurikulum Melalui Kearifan Lokal



GARUT, Jawa Barat — Dalam upaya memperkaya kurikulum sekolah dengan mengintegrasikan aspek kearifan lokal, sebuah program pengabdian masyarakat yang diinisiasi oleh Fakultas Pendidikan Islam dan Keguruan Universitas Garut telah menciptakan sebuah transformasi pendidikan di SMA Negeri 25 Garut. Kegiatan ini, yang bertajuk "In House Training: Analisis Potensi Etnosains dan Kearifan Lokal Kabupaten Garut dalam Pembelajaran Kurikulum Merdeka," telah berhasil membawa nuansa lokal ke dalam lingkup pendidikan formal.

Dilaksanakan pada Jumat, 26 Juli 2024, kegiatan ini mengundang partisipasi 42 guru dari SMAN 25 Garut, yang terlibat dalam analisis mendalam mengenai berbagai aspek etnosains dan kearifan lokal seperti Teh Nyaneut, Sambal Cibiuk, dan Jaket Kulit. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk memfasilitasi guru-guru dalam mengintegrasikan elemen-elemen kearifan lokal ke dalam pelajaran mereka, sekaligus memperkaya pengalaman belajar siswa dengan konteks yang lebih dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.


Resti Warliani, S.Si., M.Pd., ketua pelaksana kegiatan ini, mengungkapkan, "Kami berusaha untuk memperkenalkan kepada guru-guru bagaimana kearifan lokal bisa dijadikan alat yang efektif dalam pembelajaran. Ini bukan hanya tentang mempertahankan budaya, tetapi juga tentang membuat pembelajaran lebih relevan dan menarik bagi siswa."

Hasil dari kegiatan ini sangat positif, dengan 61,9% peserta menilai kegiatan tersebut sangat baik, sementara 38,1% menyatakan kegiatan ini baik. Dalam hal implementasi, 28,6% guru merasa sangat mampu mengaplikasikan konsep yang telah dipelajari, 57,1% merasa mampu, dan sisanya merasa cukup mampu. Ini menunjukkan sebuah langkah maju dalam upaya memadukan pendidikan formal dengan nilai-nilai lokal yang kaya.



Selain itu, kegiatan ini juga telah mendorong guru untuk lebih kreatif dan inovatif dalam merancang materi ajar yang tidak hanya edukatif tapi juga mengentaskan warisan budaya Garut. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kualitas pendidikan tapi juga memainkan peran penting dalam pelestarian budaya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif yang lebih besar untuk memperkuat profil pelajar Pancasila melalui pendekatan etnosains, yang mengakui pentingnya mengintegrasikan pengetahuan lokal dalam pendidikan untuk menghasilkan siswa yang bukan hanya cerdas secara akademik tapi juga mendalam pengertiannya tentang lingkungan dan budayanya.



Posting Komentar

0 Komentar